PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
A. Definisi
pendidikan luar sekolah (PLS)
a.
Komunikasi
Pembaruan Nasional Pendidikan
Pendidikan
luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur
dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan,
latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan
tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang
memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam
lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.
b.
PHILLIPS H.
COMBS
Pendidikan
luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang
diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian
dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada
sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.
B. Dasar
pendidikan luar sekolah (PLS)
Sejarah terbentuknya pendidikan luar sekolah (PLS)
Alasan terselenggaranya PLS dari segi
kesejarahan, tidak bisa lepas dari lima aspek yaitu:
- Aspek pelestarian budaya
Pendidikan
yang pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan berlangsung di
lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai perintah, tindakan dan perkataan)
ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik. Dengan demikian pendidikan luar
sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau
kegiatan yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi
interaksi antara orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Pola-pola
transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan melalui asuhan,
suruhan, larangan dan pembimbingan. Pada dasarnya semua bentuk kegiatan ini
menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik. Semua bentuk kegiatan yang
berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan
kebudayaan secara turun temurun. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memenuhi
kebutuhan praktis di masyarakat dan untuk meneruskan warisan budaya yang
meliputi kemampuan, cara kerja dan Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dari
satu generasi kepada generasi berikutnya. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya
telah terjadi proses-proses pendidikan, walaupun sistem yang berlaku berbeda
dengan sistem pendidikan sekolah. Kegiatan belajar-membelajarkan yang asli
inilah yang termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang kemudian
menjadi pendidikan luar sekolah.
- Aspek teoritis
Salah satu
dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H.
Cooms (1973:10), tidak satupun lembaga pendidikan: formal, informal maupun
nonformal yang mampu secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar
minimum yang esensial. Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa,
keberadaan pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi
mutlak diperlukan keberadaannya bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu
memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan
kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar dan mencapai tujuan
pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Uraian di atas cukup untuk
dijadikan gambaran bahwa PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi
kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai
makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.
- Dasar pijakan
Ada tiga
dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di
tengah-tengah masyarakat yaitu: UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989
dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun1991tentang pendidikan luar sekolah.
Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan
individu yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain
untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam
rangka mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan PLS., sebagaimana diundangkan
di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga, kelompok
belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis. Satuan PLS sejenis dapat
dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok
pesantren tradisional.
- Aspek kebutuhan terhadap pendidikan
Kesadaran
masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan,
melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin meluas. Kesadaran1 ini timbul
terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik.
Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan,
keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki
suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan
inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang
bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.
- Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah
Lembaga
pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi yang
dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta berbagai
keterbatasan lainnya. Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah yang ada
di daerah terpencilpun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat,
apalagi memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari kekurangan
atau keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang
bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua bentuk
pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Perkembangan pendidikan luar sekolah (PLS)
Dibagi dalam
tiga periode:
1.
Periode Pra
kemerdekaan
2.
Periode
Revolusi
3.
Periode Orde
Baru
C. Fungsi-Fungsi
Pendidikan Luar Sekolah
Pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan
sekolah,
kaitan dengan dunia kerja dan kehidupan. Dalam kaitan dengan pendidikan
sekolah, fungsi PLS adalah sebagai substitusi, komplemen, dan suplemen.
Kaitannya dengan dunia kerja, PLS mempunyai fungsi sebagai kegiatan yang
menjembatani seseorang masuk ke dunia kerja.Sedangkan dalam kaitan dengan
kehidupan, PLS berfungsi sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan
kehidupan seseorang.
1.
Fungsi PLS sebagai substitusi pendidikan sekolah
Substitusi atau
pengganti mengandung arti bahwa PLS sepenuhnya menggantikan
pendidikan
sekolah bagi peserta didik yang karena berbagai alasan tidak bisa menempuh
pendidikan sekolah. Materi pelajaran yang diberikan adalah sama dengan yang
diberikan di pendidikan persekolahan. Contoh: pendidikan kesetaraan yaitu Paket
A setara SD untuk anak usia 7-17 tahun, Paket B setara SLTP bagi anak usia
13-15 tahun, dan Paket C setara SLTA bagi remaja usia SLTA. Setelah
peserta didik menamatkan studinya dan lulus ujian akhir, mereka
memperoleh ijazah yang setara SD, SLTP dan SLTA.
2.
Fungsi PLS sebagai komplemen pendidikan sekolah
Pendidikan
luar sekolah sebagai komplemen adalah pendidikan yang materinya melengkapi apa
yang diperoleh di bangu sekolah. Ada beberapa alasan sehingga materi pendidikan
persekolahan harus dilengkapi pada PLS. Pertama, karena tidak semua hal yang
dibutuhkan peserta didik dalam menempuh perkembangan fisik dan psikisnya dapat
dituangkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, jalur PLS merupakan wahana
paling tepat untuk mengisi kebutuhan mereka. Kedua, memang ada
kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajar tertentu yang tidak biasa diajarkan
di sekolah. Misalnya olah raga prestasi, belajar bahasa asing di SD, dan
sebagainya. Untuk pemenuhan kebutuhan belajar macam itu PLS merupakan saluran
yang tepat. Bentuk-bentuk PLS yang berfungsi sebagai komplemen
pendidikan sekolah dapat
berupa
kegiatan yang dilakukan d sekolah, seperti kegiatan ekstra kurikuler (pramuka,
latihan drama, seni suara, PMR) atau kegiatan yang dilakukan di luar sekolah.
Kegiatan terakhir ini dilakukan oleh lembaga-lembaga PLS yang diselenggarakan
masyarakat dalam bentuk kursus, kelompok belajar dan sebagainya.
3.
Fungsi PLS sebagai suplemen pendidikan sekolah
Pendidikan
luar sekolah sebagai suplemen berarti kegiatan pendidikan yang materinya
memberikan tambahan terhadap materi yang dipelajari di sekolah. Sasaran
populasi PLS sebagai suplemen adalah anak-anak, remaja, pemuda atau orang
dewasa, yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah tertentu (SD sampai
PT). Mengapa mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap
tertentu sebagai tambahan pendidikan yang tidak diperoleh di sekolah? Pertama,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat,sehingga
kurikulum sekolah sering ketinggalan. Oleh karena itu, lulusan pendidikan
sekolah perlu menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Hal itu dapat
ditempuh dengan melakukannya melalui PLS. Kedua, pada umumnya lulusan
pendidikan sekolah belum sepenuhnya siap terjun ke dunia kerja. Oleh karena
itu, lulusan tersebut perlu dibekali dengan
pengetahuan
dan keterampilan yang diminta oleh dunia kerja melalui PLS. Ketiga, proses
belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup. Walaupun telah menamatkan
pendidikan sekolah sampai jenjang tertinggi, seseorang masih perlu belajar
untuk tetap menyelaraskan hidupnya dengan perkembangan dan tuntutan
lingkungannya.
4.
Fungsi PLS
sebagai jembatan memasuki dunia kerja
Pendidikan
luar sekolah berfungsi sebagai suplemen bagi lulusan pendidikan sekolah
untuk
memasuki dunia kerja. Lepas kaitannya dengan pendidikan sekolah, PLS berfungsi
sebagai jembatan bagi seseorang memasuki dunia kerja. Apakah orang tersebut
memiliki iazah pendidikan sekolah atau tidak. Seseorang yang telah
menyelesaikan pendidikan keaksaraannya di jalur PLS dan ia belum memiliki
pekerjaan, dia memerlukan jenis pendidikan luar sekolah yang bisa membawa ke
dunia pekerjaan.
5.
Fungsi PLS sebagai wahana ntuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan
Bertahan
hidup (survival) harus melalui pembelajaran. Tidaklah mungkin seseorang bisa
mempertahankan hidupnya tanpa belajar mempertahankan hidup. Demikian pula untuk
mengembangkan mutu kehidupannya,seseorang harus melakukan proses pembelajaran.
Belajar sepanjang hayat merupakan wujud pertahanan hidup dan pengembangan
kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan dan
belajar sepanjang hayat yang amat strategis untuk pengembangan kehidupan
seseorang. Dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
D. Sistem
pendidikan luar sekolah (PLS)
Pendidikan
Luar Sekolah adalah sub sistem pendidikan nasional, yaitu suatu sistem yang
memiliki tujuan jangka pendek dan tujuan khusus yakni memenuhi kebutuhan
belajar tertentu yang fungsional bagi masa sekarang dan masa depan. Komponen
atau sub sistem yang ada pada sistem PLS adalah masukan saran (instrumen
input), masukan mentah (raw input), masukan lingkungan (environmental
input), proses (process), keluaran (out put) dan masukan lain
(other input) dan Pengaruh (impact).
E. Program
pendidikan luar sekolah (PLS)
Jenis-jenis
pendidikan yang ada pada PLS, menurut D. Sudjana (1996:44) di antaranya adalah:
a.
Pendidikan
Massa (Mass education)
Pendidikan
massa yaitu kesempatan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat luas dengan
tujuan yaitu membantu masyarakat agar mereka memiliki kecakapan dalam hal
menulis, membaca dan berhitung serta berpengetahuan umum yang diperlukan dalam
upaya peningkatan taraf hidup dan kehidupannya sebagai warga negara. Istilah
Mass education menunjukan pada aktifitas pendidikan di masyarakat yang
sasarannya kepada individu-individu yang mengalami keterlantaran pendidikan,
yaitu individu yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur
sekolah, tetapi putus di tengah jalan dan belum sempat terbebas dari
kebuta-hurufan. Mass education ini dapat dikatakan semacam program
pemberantasan buta huruf atau program keaksaraan, tentu saja tidak bertujuan
supaya orang-orang didiknya sekedar bisa baca-tulis, tetapi juga supaya
memperoleh pengetahuan umum yang relevan bagi keperluan hidupnya sehari-hari.
Individu yang menjadi sasarannya adalah pemuda-pemuda dan orang dewasa.
Pelaksanaannya melalui kursus-kursus.
b.
Pendidikan
Orang Dewasa (Adult Education)
Pendidikan
orang dewasa yaitu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa.
Dalam salah satu bukunya tentang PLS, Sudjana (1996:45) menerangkan bahwa
pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang
dewasa dalam lingkukangan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan
kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi
yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya.
c.
Pendidikan
Perluasan (Extension Education)
Kegiatan
yang diselenggarakan PLS adalah meliputi seluruh kegiatan pendidikan baik yang
dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun yang
tidak dilembagakan.
F.
Ciri-ciri
pendidikan luar sekolah (PLS)
a.
Beberapa
bentuk pendidikan luar sekolah yang berbeda ditandai untuk mencapai
bermacam-macam tujuan.
b.
Keterbatasan
adalah suatu perlombaan antara beberapa PLS yang dipandang sebagai pendidikan
formal dari PLS sebagai pelengkap bentuk-bentuk pendidikan formal.
c.
Tanggung
jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekolah dibagi oleh pengawasan
umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya.
d.
Beberapa
lembaga pendidikan luar sekolah di disiplinkan secara ketat terhadap waktu
pengajaran, Teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan.
e.
Metode
pengajaran juga bermacam-macam dari tatap muka atau guru dan kelompok-kelompok
belajar sampai penggunaan audio televisi, unit latihan keliling, demonstrasi,
kursus-kursus korespondensi, alat-alat bantu visual.
f.
Penekanan
pada penyebaran program teori dan praktek secara relative dari pada PLS.
g.
Tidak
seperti pendidikan formal, tingkat sistem PLS terbatas yang diberikan
kredensial.
h.
Guru-guru
mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai
kualifikasi professional dimana tidak termasuk identitas guru.
i.
Pencatatan
tentang pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan, kesuksesan latihan,
membawa akibat peningkatan produksi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan
pendapatan peserta.
j.
Pemantapan
bentuk PLS mempunyai dampak pada produksi ekonomi dan perubahan sosial dalam
waktu singkat dari pada kasus pendidikan formal sekolah.
k.
Sebagian
besar program PLS dilaksanakan oleh remaja dan orang-orang dewasa secara
terbatas pada kehidupan dan pekerjaan.
l.
Karena
secara digunakan, PLS membuat lengkapnya pembangunan nasional. Peranannya
mencakup pengetahuan, keterampilan dan pengaruh pada nilai-nilai program.
m.
Diselengarakan
dengan tidak berjenjang, tidak berkesinambungan dan dilaksanakan dalam waktu
singkat.
n.
Karena
sifatnya itu sehingga tujuan, metode pembelajaran dan materi yang disampaikan
selalu berbeda di masing-masing penyelenggara PLS.
SUMBER :
http://pendidikanluarsekolahunp.blogspot.com/2011/06/konsep-pendidikan-luar-sekolah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar